Berlibur Mungkin Bukan Jawabannya

Setiap orang dengan berbagai macam aktivitas rutinnya pada akhirnya akan menemui yang namanya kejenuhan, lelah dengan kegiatan yang monoton, bosan, atau barangkali akan merasa benci dan marah sebagai puncaknya. Apa yang harus kita lakukan apabila kita berada pada situasi tersebut?

Saya seringkali mendengar ucapan “saya perlu berlibur“. Memang ada saat dimana kita memang perlu berlibur dan perlu menjauh dari rutinitas serta melakukan kegiatan yang sangat berbeda. Kita mudah meyakinkan diri sendiri bahwa memang kita membutuhkan liburan untuk beberapa hari atau seminggu, agar dapat meringankan stres ‘padahal persoalan yang sebenarnya adalah kehidupan kita yang telah menjadi gila, dan apabila masalahnya seperti itu maka liburan bukan jawaban yang tepat’ –berlibur bukanlah pemecahan yang paling baik– (I think so).

Situasi yang sungguh membingungkan, meresahkan hati, dilema tanpa henti dan batas, depresi dan marah yang tak tertuangkan. Dan parahnya situasi tersebut tidak terjadi dalam sekejap, serta perlahan-lahan malah menjebak kita. Beberapa janji dan kewajiban pun berubah menjadi lusinan kegiatan. Kebanyakan dari janji-janji kita tidak terlalu penting bila dilihat secara terpisah, bahkan mungkin hanya perlu membutuhkan beberapa menit untuk menyelesaikannya. Tetapi bila digabungkan, janji-janji dan kewajiban tersebut dapat menumpuk –dan akhirnya kita akan mudah terserang penyakit lupa-.

Baca juga:  Transformasi untuk Kesempurnaan

Janji-janji diantara rutinitas kita adalah bayangan kegiatan yang terjadwalkan atau pun tidak, diantara janji-janji tersebut mungkin saja beberapanya tidak kita inginkan lagi. Banyak diantara kita berkerja selama empat puluh, lima puluh, atau enam puluh bahkan tujuh puluh jam dalam seminggu. Diluar masalah pekerjaan, kita masih memiliki hubungan penting, termasuk keluarga yang perlu diperhatikan atau proyek yang perlu dilaksanakan. Kita akan mencari waktu senggang untuk melakukan olahraga, bahkan satu atau dua hobi. Atau kita menjadi salah satu penanggung jawab dalam kegiatan sosial dan aktif di berbagai kepanitiaan.

Apabila kita terus menambahkan kegiatan dalam jadwal kita (padahal jadwal kita sudah penuh) pada suatu saat mungkin kita akan gila, saraf-saraf kita seakan-akan meledak. Sungguh mengherankan kita masih dapat bekerja. Saya telah menyadari bahwa mengurangi kegiatan akan lebih menguntungkan daripada berlibur. Bagaimanapun, liburan hanya berlangsung satu atau dua minggu. Tetapi mengurangi janji-janji dan belajar mengatakan ‘tidak’ akan sangat bermanfaat selama 365 hari dalam setahun.

Baca juga:  Izinkan Aku

Langkah pertama untuk menyelesaikan masalah adalah menemukan akar masalah. Jika liburan merupakan hal tepat untuk dilakukan, maka berliburlah dan bersenang-senanglah. Namun, ketika liburan bukan jawabannya, maka penyesuaian gaya hidup merupakan penyelesaian sejati.