Trending

Tragedi Gempa Myanmar: Ribuan Korban dan Dampak Besar di Asia Tenggara

Tragedi Gempa Myanmar: Ribuan Korban dan Dampak Besar di Asia Tenggara
abcnews.go.com

niadi.net — Pada Jumat, 28 Maret 2025, Myanmar diguncang gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7. Bencana ini tidak hanya meluluhlantakkan sebagian besar wilayah di negara tersebut, tetapi juga berdampak pada beberapa negara tetangga, termasuk Thailand dan China.

Ribuan nyawa melayang, ribuan lainnya terluka, dan infrastruktur hancur akibat kekuatan gempa yang luar biasa ini. Berikut adalah fakta-fakta mengenai peristiwa tragis tersebut.

1. Korban Jiwa Meningkat, Ribuan Orang Tewas

Sejak gempa pertama mengguncang Myanmar, jumlah korban terus bertambah. Hingga 2 April 2025, laporan dari Kedutaan Besar Myanmar di Jepang mengungkapkan bahwa 3.003 orang telah kehilangan nyawa mereka, sementara lebih dari 4.500 lainnya mengalami luka-luka.

Angka ini diperkirakan masih akan bertambah seiring dengan proses pencarian dan evakuasi yang terus dilakukan.

Sebagian besar korban berasal dari Mandalay dan sekitarnya, lokasi yang paling dekat dengan pusat gempa. Di kota-kota lain seperti Yangon, Naypyidaw, dan Bago, banyak korban tertimpa reruntuhan bangunan yang roboh akibat guncangan dahsyat ini.

2. Bangunan Bersejarah dan Infrastruktur Hancur

Gempa ini tidak hanya mengakibatkan korban jiwa, tetapi juga menghancurkan banyak bangunan penting.

Salah satu yang paling terdampak adalah pagoda berusia ratusan tahun di Mandalay yang runtuh akibat getaran gempa. Seorang biksu dikabarkan tewas di lokasi, sementara beberapa orang lainnya mengalami luka-luka.

Bandara di beberapa kota utama juga mengalami kerusakan, menyebabkan pembatalan dan penundaan penerbangan. Di Taungoo, sebuah masjid runtuh dan menewaskan dua orang.

Sementara itu, sebuah hotel di Aungban juga hancur, menewaskan dua orang dan melukai puluhan lainnya.

3. Thailand Ikut Merasakan Dampak Gempa

Guncangan gempa terasa hingga Bangkok dan Chiang Mai di Thailand. Di ibu kota Thailand, sebuah gedung pencakar langit setinggi 30 lantai ambruk, menyebabkan tiga orang tewas dan 81 lainnya tertimbun reruntuhan.

Pemerintah Thailand segera mengevakuasi warga dari gedung-gedung tinggi dan menutup fasilitas umum untuk menghindari potensi gempa susulan.

Bandara Suvarnabhumi sempat menghentikan operasionalnya, namun kembali beroperasi setelah dilakukan pemeriksaan struktur bangunan. Lalu lintas di Bangkok menjadi kacau setelah gempa, dengan banyak warga yang memilih bertahan di jalanan untuk menghindari kemungkinan bangunan runtuh.

4. Gempa Akibat Aktivitas Sesar Sagaing

Menurut laporan dari United States Geological Survey (USGS), gempa ini terjadi akibat pergerakan Sesar Sagaing, salah satu sesar aktif di Asia Tenggara.

Gempa patahan ini terjadi ketika dua lempeng tektonik, yaitu Lempeng India dan Lempeng Sunda, bergesekan secara horizontal.

Sesar Sagaing telah beberapa kali memicu gempa besar di Myanmar, termasuk pada tahun 1912 (7,9 magnitudo) dan 1990 (7,0 magnitudo).

Wilayah ini memang rawan gempa karena berada di jalur pertemuan dua lempeng besar yang terus bergerak dan menyebabkan gesekan yang berpotensi melepaskan energi seismik dalam jumlah besar.

Selain itu, gempa besar di wilayah ini juga berpotensi memicu likuifaksi, di mana tanah kehilangan kekuatannya dan berubah menjadi seperti lumpur akibat getaran yang kuat.

Ini memperparah kerusakan di berbagai wilayah, terutama di daerah dengan kondisi tanah yang gembur.

5. Bantuan Internasional Mulai Berdatangan

Mengingat skala bencana yang sangat besar, berbagai negara dan organisasi internasional telah mengirimkan bantuan ke Myanmar.

Rusia menjadi salah satu negara pertama yang mengirim tim penyelamat lengkap dengan anjing pelacak untuk membantu evakuasi korban. Pesawat mereka lepas landas dari Bandara Zhukovsky, Moskow, menuju Myanmar pada 29 Maret 2025.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) telah mengalokasikan dana sebesar USD 5 juta untuk mendukung operasi darurat.

Selain itu, mereka juga mengumpulkan dana tambahan sebesar USD 10 juta dari berbagai cabang PBB dan lembaga donor lainnya.

Pemerintah Inggris pun menyatakan komitmennya untuk membantu Myanmar dengan mengirimkan dana bantuan sebesar £10 juta.

Sementara itu, Indonesia melalui Palang Merah Indonesia (PMI) telah mengirimkan 124 ton bantuan kemanusiaan, termasuk selimut, kantong jenazah, perlengkapan kebersihan, dan kebutuhan darurat lainnya.

Gempa bumi yang melanda Myanmar pada Maret 2025 menjadi salah satu bencana paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir.

Dengan lebih dari 3.000 korban jiwa dan ribuan lainnya terluka, tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi warga Myanmar dan negara-negara tetangga yang ikut terdampak.

Proses pencarian korban dan pemulihan masih terus berlangsung, dengan bantuan dari berbagai negara diharapkan dapat meringankan penderitaan para korban yang selamat.

Namun, kejadian ini juga menjadi pengingat betapa pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, terutama di wilayah yang rentan terhadap aktivitas seismik.

Dengan mitigasi yang tepat, diharapkan dampak bencana di masa mendatang dapat dikurangi dan lebih banyak nyawa yang bisa diselamatkan.

Lebih baru Lebih lama
Cek berita dan artikel menarik niadinet lainnya melalui saluran WhatsApp

Apakah tulisan ini bermanfaat? Support kami dengan share dan traktir kopi disini

Formulir Kontak