
niadi.net — Saham perusahaan teknologi raksasa kembali mengalami tekanan hebat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kebijakan tarif baru terhadap barang-barang impor.
Kebijakan ini memicu gelombang kepanikan di pasar saham, dengan beberapa perusahaan teknologi mengalami penurunan harga saham yang cukup tajam.
Trump Kenakan Tarif Baru, Industri Teknologi Terpukul
Dalam kebijakan barunya, Trump memberlakukan tarif impor yang berkisar antara 10 persen hingga 49 persen untuk berbagai produk yang masuk ke Amerika Serikat. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan AS terhadap barang impor dan memperkuat industri domestik.
Namun, dampaknya justru menghantam sektor teknologi, yang selama ini sangat bergantung pada rantai pasokan global. Sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Apple, Nvidia, Tesla, Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft mengalami penurunan harga saham yang signifikan.
Hal ini terutama disebabkan oleh meningkatnya biaya produksi akibat tarif yang lebih tinggi, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi harga jual produk mereka.
Apple Terpukul Paling Parah
Dari seluruh perusahaan teknologi yang terdampak, Apple menjadi salah satu yang mengalami penurunan paling drastis. Harga saham perusahaan tersebut anjlok lebih dari enam persen dalam perdagangan setelah jam bursa pada Rabu malam waktu setempat.
Penurunan ini tidak lepas dari fakta bahwa sebagian besar produksi Apple dilakukan di China dan beberapa negara Asia lainnya. Dengan adanya tarif impor baru, biaya produksi Apple kemungkinan akan meningkat secara signifikan, yang berpotensi menggerus margin keuntungan mereka.
Jika tren penurunan ini berlanjut hingga sesi perdagangan reguler berikutnya, maka penurunan harga saham Apple akan menjadi yang terbesar sejak September 2020.
Nvidia dan Tesla Tak Luput dari Dampak
Selain Apple, Nvidia dan Tesla juga mengalami nasib serupa. Nvidia, yang mengandalkan produksi chip di Taiwan dan perakitan di Meksiko, mencatatkan penurunan harga saham sekitar 4 persen.
Sementara itu, Tesla, yang memiliki jaringan manufaktur global, turun sekitar 4,5 persen.
Perusahaan teknologi lainnya seperti Alphabet, Amazon, dan Meta juga mengalami kemerosotan saham antara 2,5 persen hingga 5 persen. Microsoft pun terkena dampaknya, dengan penurunan hampir 2 persen.
Pasar Saham Ikut Bergejolak
Tidak hanya perusahaan teknologi yang mengalami tekanan, kebijakan tarif baru ini juga berdampak luas pada pasar saham secara keseluruhan. Bursa saham Nasdaq, yang didominasi oleh perusahaan teknologi, langsung mengalami penurunan signifikan.
Nasdaq 100, yang mencakup 100 perusahaan teknologi terbesar di Nasdaq, mengalami penurunan lebih dari 3 persen setelah pengumuman tarif tersebut.
Indeks S&P 500 juga ikut melemah dengan penurunan sekitar 2,8 persen. Penurunan ini mencerminkan betapa luasnya dampak kebijakan Trump terhadap pasar saham.
Bahkan sebelum kebijakan ini diumumkan, Nasdaq telah mencatatkan kinerja yang kurang baik, dengan penurunan sebesar 10 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini.
Meski ada sedikit kenaikan dalam dua hari pertama kuartal kedua 2025, kebijakan tarif ini kembali menekan pasar saham ke bawah.
Trump Tetap Optimis
Meskipun kebijakan ini memicu gejolak di pasar saham, Trump tetap optimis bahwa langkah ini akan berdampak positif bagi ekonomi Amerika Serikat dalam jangka panjang.
Ia bahkan memuji perusahaan seperti Apple, Meta, dan Nvidia karena tetap berinvestasi besar di AS meski menghadapi tekanan tarif impor.
Trump mengklaim bahwa Apple akan menginvestasikan sekitar 500 miliar dolar AS atau sekitar Rp8,3 kuadriliun di Amerika Serikat. Menurutnya, investasi ini merupakan yang terbesar dalam sejarah Apple dan akan digunakan untuk membangun pabrik-pabrik baru di AS.
"Apple akan menghabiskan 500 miliar dolar AS di Amerika Serikat. Mereka belum pernah mengeluarkan uang sebanyak ini sebelumnya," kata Trump dalam pidatonya.
Tarif Baru dan Tujuan Trump
Dalam pengumuman resminya pada Rabu sore (2/4/2025), Trump mengumumkan bahwa semua barang yang masuk ke AS akan dikenakan tarif impor baru sebesar 10 persen.
Selain itu, tarif yang lebih tinggi juga diberlakukan untuk beberapa negara tertentu, yaitu 34 persen untuk China, 20 persen untuk negara-negara Eropa, dan 24 persen untuk Jepang.
Trump menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan respons terhadap tarif yang dikenakan oleh negara lain terhadap ekspor AS. Ia juga menyatakan bahwa kebijakan ini adalah bagian dari "deklarasi kemerdekaan ekonomi" bagi Amerika Serikat.
Menurut Trump, langkah ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan industri domestik, membuka akses pasar luar negeri, dan mengurangi hambatan perdagangan global.
Ia juga mengklaim bahwa produksi dalam negeri yang lebih besar akan menciptakan persaingan yang lebih kuat dan harga yang lebih rendah bagi konsumen Amerika.
Masa Depan Pasar Saham dan Industri Teknologi
Meskipun kebijakan tarif ini bertujuan untuk memperkuat ekonomi domestik, banyak investor dan analis yang khawatir bahwa langkah ini justru dapat memperlambat pertumbuhan industri teknologi.
Dengan meningkatnya biaya produksi akibat tarif impor yang lebih tinggi, ada kemungkinan harga produk teknologi di AS akan meningkat, yang pada akhirnya dapat menurunkan daya beli konsumen.
Selain itu, ada pula risiko bahwa negara-negara yang terdampak oleh kebijakan tarif ini akan membalas dengan memberlakukan tarif serupa terhadap produk-produk Amerika.
Jika hal ini terjadi, maka perusahaan-perusahaan AS yang memiliki pasar global dapat mengalami tekanan lebih lanjut.
Di sisi lain, ada harapan bahwa perusahaan teknologi dapat menyesuaikan diri dengan kebijakan baru ini dengan memindahkan produksi ke AS atau mencari solusi lain untuk mengurangi biaya tambahan akibat tarif.
Kebijakan tarif baru Trump telah mengguncang pasar saham dan membuat saham-saham perusahaan teknologi terperosok. Meskipun Trump berargumen bahwa kebijakan ini akan memperkuat ekonomi AS dalam jangka panjang, banyak pihak yang masih meragukan efektivitasnya, terutama bagi sektor teknologi yang sangat bergantung pada rantai pasokan global.
Dalam beberapa minggu ke depan, investor dan pelaku pasar akan terus mencermati dampak lanjutan dari kebijakan ini. Apakah kebijakan tarif ini akan benar-benar membawa manfaat bagi ekonomi AS, atau justru memperburuk situasi bagi perusahaan-perusahaan teknologi? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.