Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama

Musyawarah Nasional, munas, konbes, Alim Ulama, Konferensi Besar, NU, PBNU, Nahdlatul Ulama

Niadi.Net – Di tahun 2019 ini, Nahdlatul Ulama (NU) akan menyelenggarakan dua hajatan besar sekaligus yang dari segi waktunya pun bisa dibilang hampir bersamaan. Dua perhelatan akbar dari NU tersebut yaitu Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama.

Bila melihat dari rangkaian acaranya, beberapa kegiatan pendukung sedang dan telah dilaksanakan. Namun untuk 2 acara akbarnya akan mulai dilaksanakan mulai tanggal 27 Februari sampai 1 Maret 2019, bertempat di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kujangsari, Kota Banjar, Jawa Barat.

Peserta dan Tema Pembahasan

Walau diselenggarakan dalam waktu yang bersamaan namun kedua acara yang diprakarsai oleh NU itu nyatanya berbeda, karena dalam kedua forum tersebut tema pembahasan yang disajikan dan juga dari sisi pesertanya berbeda.

Dimana untuk acara Musyawarah Nasional Alim Ulama, peserta yang di undang oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) adalah para kiai se-Indonesia, baik itu yang termasuk dalam kepengurusan NU maupun yang tidak.

Sedangkan pada acara Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama ini pesertanya adalah para Mustasyar, Syuriyah, A’wan, dan Tanfidziyah PBNU, Lembaga dan Badan Otonom NU di tingkat pusat, serta pengurus PWNU dari 34 provinsi.

Untuk tema pembahasan pada forum Munas Alim Ulama diantaranya adalah terkait masalah-masalah keagamaan yang menyangkut kehidupan umat dan bangsa di dalam tiga komisi, yaitu Waqi’iyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan aktual), Maudlu’iyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan tematik), dan Qanuniyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan berkaitan dengan perundang-undangan).

Pada konfrensi pers Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Gedung PBNU, Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj sedikit menjelaskan tema yang nanti akan dibahas pada Munas Alim Ulama 2019, seperti bagaimana hukumnya membuang sampah sembarangan? sampah plastik contohnya.

Sampah plastik merupakan ancaman bagi keberlangsungan kehidupan di bumi. Para kiai akan mencari jawabannya berdasarkan sumber ajaran Islam, bolehkah pemerintah memberikan sanksi kepada orang yang membuang sampah sembarangan, juga kepada produsen sampah plastik,” ungkap kiai Said.

Persoalan selanjutnya yang menyangkut kehidupan umat dan bangsa di Republik ini adalah mengenai bagaimana hukumnya atas perusahaan air mineral yang dalam kegiatan usahanya itu mengambil air jumlah besar hingga mengakibatkan daerah sekitar yang airnya disedot terus menerus dan mengalami kekeringan.

Nabi Muhammad bersabda, tiga hal yang tidak boleh dimonopoli, dinikmati sekelompok orang, satu air. Itu tidak boleh diperjualbelikan. Kedua, energi. Ketiga, rumput dan hutan. Itu sudah diwanti-wanti Rasulullah sejak 14 abad lalu,” jelas SAS.

Dari contoh masalah di atas, maka para kiai yang hadir pada acara Munas Alim Ulama 2019 nantinya akan mencari dan memberikan solusi hukum bagi si perusahaan air mineral yang telah menyebabkan kekeringan itu. Apakah perusahaan wajib memberikan air pada daerah yang mengalami kekeringan itu sebagai pengganti? Ataukah wajib bagi pemerintah untuk mencabut izin si perusahaan air mineral itu karena telah menyebabkan kemudharatan bagi ummat di sekitar? 

Dalam Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah, para peserta forum Munas Alim Ulama 2019 itu akan membahas mengenai negara, kewarganegaraan, juga hukum negara serta konsep Islam Nusantara. Sedangkan untuk Komisi Bahtsul Masail Qanuniyyah tema yang akan dibahas para peserta diantaranya RUU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. 

Helmy Faishal, Sekretaris Jendral PBNU menambahkan, untuk forum Konbes NU akan lebih membahas persoalan terkait pelaksanaan dari keputusan-keputusan Muktamar, mengkaji perkembangan program, memutuskan Peraturan Organisasi (PO), dan terakhir adalah menerbitkan rekomendasi sebagai hasilnya. Maka pada acara Konbes NU ini nantinya forum permusyawaratan akan dikerucutkan dalam tiga komisi pembahasan, yaitu Komisi Program, Komisi Organisasi, dan Komisi Rekomendasi.

Ulama Besar Nasional dan Dunia

10 ulama besar di dunia, ulama indonesia sekarang, 17 ulama berpengaruh di indonesia, ulama indonesia 2018 2019, ulama adalah, 100 ulama paling berpengaruh di indonesia, KH Said Aqil Siroj, KH Maimoen Zubair, Habib Luthfi bin Yahya, KH A. Mustofa Bisri, Habib Umar bin Hafidz, Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi, Prof. Dr. Musthofa Zahran
Selama 3 hari kedepan, di Kota Banjar, Jawa Barat pada forum Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama rencananya akan dihadiri oleh beberapa ulama besar baik dalam maupun luar negeri.

Menurut keterangan dari konfrensi pers tersebut, ulama besar dalam dan luar negeri yang rencananya dijadwalkan akan menghadiri Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2019 diantaranya adalah kiai sepuh pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar KH Maimoen Zubair, dan pengasuh Kanzus Shalawat Habib Luthfi bin Yahya.

Selanjutnya adalah kiai sepuh pengasuh Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu Tuan Guru H Turmudzi dari Nusa Tenggara Barat, juga Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin KH A. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus.

Ulama besar dunia yang rencananya dijadwalkan hadir pada kegiatan Munas Alim Ulama 2019 sebagai pembicara internasional diantaranya adalah Habib Umar bin Hafidz dari Yaman, yang akan bercerita dengan tema paham keagamaan yang menyimpang hingga memicu perang saudara di negeri timur tengah.

Lalu ada Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi dari Syiria (Suriah), yang juga akan bercerita tentang tema yang sama dimana saat ini negerinya luluh lantak karena perang saudara akibat beberapa kelompok yang salah dalam memahami ajaran agama Islam. Mungkin juga beliau akan bercerita mengenai kematian syahid ayahandanya, Syekh Ramadhan al-Buthi.

Selanjutnya ulama Timur Tengah yang rencananya akan hadir adalah Prof. Dr. Musthofa Zahran dari Al-Azhar Mesir. Beliau juga akan berbagi terkait pengalamannya tentang Islam di Timteng, serta memberikan pendapatnya mengenai Islam yang ada Indonesia ini dari sudut pandang ulama Mesir. Sehingga apakah Islam Indonesia yang damai ini bisa diterima apa belum sebagai rujukan bagi muslim di dunia secara umumnya, dan muslim di timur tengah yang sedang mengalami konflik perang saudara pada khususnya.

“Memperkuat Khidmah Wathoniyah untuk Kedaulatan Rakyat”

Adalah tema yang diusung pada gelaran Munas dan Konbes NU 2019, dimana dalam gelarannya akan ada tiga komisi Bahtsul Masail yang diharapkan dapat melahirkan hukum-hukum keagamaan sebagai solusi atas persoalan masalah-masalah kehidupan umat, bangsa dan negara. Seperti isu mengenai kenegaraan, lingkungan hidup, dan sosial budaya.

Pada tiga momen itu, dalam catatan panitia peserta yang akan menghadiri kegiatan tersebut sekitar 10.000 kiai kampung dan ribuan Nahdliyin se-Jawa. Dan rencananya Musyawarah Nasional Alim Ulama 2019 itu akan dibuka oleh Presiden Jokowi selepas ba’da dhuhur pada tanggal 27 Februari 2019.

Agar lebih memeriahkan Munas-Konbes di Kota Banjar Jabar tersebut juga panitia menyelenggarakan acara bagi khalayak umum melalui bazar, bedah buku, pengajian KH. Ahmad Muwafiq, hiburan musik Nasida Ria, Grup Shalawat Syubbanul Muslimin, penampilan musik tradisional, vokalis Veve Zulfikar, dan silaturahim alim ulama dan warga NU.

You May Also Like